Mengabaikan “Life Sign” dari Tuhan

Manusia apakah sekedar diciptakan lalu dibiarkan begitu saja di dunia oleh Tuhan? atau bagaimana? Mempelajari seputar Aku, Tuhan, dan Kehidupan ini memang sangat menarik untuk dikaji dan dipahami. Salah satu hal yang mengusik pikiran saya selama ini adalah memahami bagaimana keterlibatan Tuhan secara langsung terhadap manusia di dunia ini.

Suatu ketika saya secara tidak sengaja menemukan sebuah file audio dari seorang inspirator bernama Andre Raditya yang pada saat itu saya tidak mengenalnya sama sekali.

Singkat cerita, file tersebut saya putar dan saya dengarkan baik-baik. Di file tersebut, Andre Raditya menjelaskan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan kita.   Andre Raditya juga menggisahkan sebuah kisah yang sangat sederhana tapi sangat bermakna.

Kurang lebih beginilah kisahnya,

Tinggalah seorang kakek yang sangat taat kepada Tuhannya di suatu perkampungan yang sangat tenang dan damai. Begitu tentramnya, sehingga selama bertahun-tahun penduduk itu tinggal di perkampungan ini tidak terdapat satu bencana pun yang berarti. Hingga pada suatu ketika, turunlah hujan yang begitu deras dan berlangsung selama sehari penuh, alhasil, airpun menggenang di perkampungan. Melihat hal ini, para penduduk mulai panik. Beberapa penduduk sudah mulai mengungsi.

Waktu berlalu dan airpun mulai meninggi sebatas lutut. Beberapa penduduk mulai mengungsi di kampung yang lebih aman. Beberapa tetangga pun mulai mengajak si kakek untuk segera ikut mengungsi, akan tetapi si kakek dengan begitu tenang menjawab,”Tuhan Maha Penyayang, saya percaya Tuhan pasti menolong saya”.

Waktu makin berlalu dan airpun sudah mulai menyentuh dada orang dewasa, tim penyelamat pun mulai ikut sibuk menyelamatkan warga dengan membawa perahu karet. Semua orang sudah hampir naik, tak ketinggalan pula si kakek taat inipun ditawari untuk ikut naik perahu karet, tapi dengan mantap dan yakin si kakek menjawab,”Saya sangat yakin dengan Tuhan, Tuhan pasti menolong saya”. dan ditinggalah si kakek oleh perahu itu.

Beberapa jam telah berlalu, air sudah makin meninggi dan nyaris akan menenggelamkan rumah penduduk. Dengan segala upaya si kakek naik ke genting rumah, berharap ada keajaiban dari Tuhan yang selama ini dia yakini. Tak lama berselang, muncullah helikopter yang bertugas untuk melakukan swepping. Mendapati si kakek berada di atap rumah, langsung para tim penyelamat melemparkan tangga tali dan berteriak, “Ayo kek naik, tinggal kakek sendiri, desa akan tenggelam”, namun sekali lagi si kakek ini menjawab dengan tegas, “Tuhan maha Pengasih, Tuhan pasti nolong saya”. Ditolak pula si helikopter.

Singkat cerita si kakek pun tenggelam bersama desa dan meninggal. Di surga ia bertemua dengan Tuhan, langsung saja ia mengajukan protes.”Tuhan, saya kan percaya pada Tuhan, tapi kenapa Tuhan nggak nolong saya?”. dengan tegas Tuhan langsung menjawab, “Nggak nolong gimana?, pertama, aku peringatin lewat tetanggamu, kamu nggak bergerak. Kedua, aku datangin perahu karet, eh kamu nggak naik juga. Terakhir tak kasih helikopter, tetep ditolak. Nah, Saya pikir lo mau mati..” (hehehehe)

Binggo! Sesaat saya terhentak, kemudian merenunginya. Mungkin kisah tadi merupakan kisah fiktif yang digunakan sebagai perumpamaan. Saya coba menarik kisah tadi kedalam kehidupan saya sendiri. Saya sendiri sering mengalaminya. Saya sering berharap sebuah “keajaiban-keajaiban besar” dari Tuhan sebagai jawaban atas semua doa saya. Saya sering mengabaikan hal-hal kecil yang merupakan “tanda” dari Tuhan untuk dapat kita lihat. Seolah Tuhan berkata, “Ini loh cara-cara keluar dari sini, coba kau lakukan..” Tapi saya sering mengabaikannya karena saya tidak menyadarinya dan lebih berharap “cara yang ajaib”.

Sedikit bercerita tentang impian saya saat ini, setidaknya saya memiliki 4 impian besar yang harus saya capai terlebih dahulu. Sebelum mendapatkan banyak pencerahan, saya merasa doa saya tidak segera dijawab. Saya merasa berjuang sendirian dan sedikit kecewa karena tidak segera mencapainya. Khusus untuk pencerahan tentang “tanda dari Tuhan” saya benar-benar merasa bersalah berprasangka buruk kepada Tuhan.

Selama ini ternyata saya tidak pernah ditinggalkan Tuhan. Lebih banyak tanda-tanda yang saya abaikan daripada saya jalani. Saya tidak menyadarinya, karena saya hanya berfokus pada hasil akhir bukan proses mencapainya.

Tuhan memberikan manusia bebas memilih jalan hidupnya. Setiap saat akan ada jalan bercabang untuk dilalui dan saat itu pula Tuhan akan memberikan banyak tanda untuk dapat dilihat. Siapa yang cermat melihat tandanya, dia akan bisa melalui kehidupan dengan baik.

Akhir kata, semoga kehidupan kita yang cuma sekali ini dapat kita maksimalkan sebaik mungkin.🙂

 

Follow saya di twitter @Khoyrulfauzan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s